Korsel Guyur AS US$200 Miliar, Korut Malah Kembali Tembakkan Rudal
Korea Selatan komitmen investasi US$200 miliar ke AS saat Korea Utara kembali menembakkan rudal balistik di tengah ketegangan Semenanjung Korea.
Globalindobuzz.net, Washington - Korea Selatan berada dalam situasi geopolitik yang semakin kompleks. Di tengah penguatan hubungan ekonomi dan energi dengan Amerika Serikat melalui komitmen investasi hingga US$200 miliar, Korea Utara justru kembali melakukan peluncuran rudal balistik ke arah laut.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan komitmen investasi besar Korea Selatan tersebut pada Sabtu (3/10/2026). Paket investasi itu mencakup pembangunan fasilitas pembangkit listrik tenaga gas alam (PLTG) berkapasitas 6,4 gigawatt (GW) di Texas, delapan reaktor nuklir baru, hingga proyek pipa gas alam cair (LNG) di Alaska.
Pada hari yang sama, militer Korea Selatan melaporkan Korea Utara kembali menembakkan rudal balistik dari wilayah Wonsan di pesisir timur negara tersebut. Rudal itu terbang lebih dari 700 kilometer sebelum jatuh di luar zona ekonomi eksklusif Jepang.
Dua perkembangan tersebut memperlihatkan dua sisi hubungan Korea Selatan dengan Amerika Serikat dan kawasan sekitarnya: keterikatan ekonomi yang semakin besar dengan Washington di satu sisi, serta tekanan keamanan dari Pyongyang di sisi lainnya.
Investasi Energi Korsel di Amerika Serikat Capai US$200 Miliar
Trump menyebut komitmen investasi Korea Selatan sebagai salah satu investasi infrastruktur energi terbesar dalam sejarah Amerika Serikat.
“Mereka (Korea Selatan) akan berinvestasi hingga US$ 200 miliar,” ujar Trump dalam konferensi pers di Gedung Putih.
Salah satu proyek terbesar dalam paket tersebut adalah Project Star di Texas. Fasilitas PLTG itu memiliki nilai investasi US$22,3 miliar atau sekitar Rp398,9 triliun dan dirancang berkapasitas 6,4 GW.
Project Star ditargetkan beroperasi penuh pada 2032 dan digadang-gadang menjadi salah satu fasilitas pembangkit listrik tenaga gas terbesar di dunia.
Komitmen investasi tersebut merupakan bagian dari implementasi kerangka perjanjian perdagangan Washington-Seoul yang dirancang sejak akhir 2025. Total nilai kesepakatannya mencapai US$350 miliar atau sekitar Rp6.249 triliun.
Dalam kerangka tersebut, Korea Selatan berkomitmen menanamkan modal di sejumlah sektor strategis Amerika Serikat. Sebagai imbalannya, pemerintah AS bersedia memangkas tarif impor produk Korea Selatan menjadi 15 persen.
Baca Juga: AS Kerahkan 9.000 Personel ke Timur Tengah, Minyak Ikut Memanas
Namun, tidak seluruh proyek yang disebut Trump telah mendapatkan keputusan final dari Seoul.
Pemerintah Korea Selatan menegaskan keterlibatan mereka dalam proyek pipa LNG Alaska masih dalam tahap peninjauan. Menteri Perdagangan Korea Selatan mengatakan pemerintah masih menguji kelayakan komersial sekaligus memastikan proyek tersebut memenuhi prosedur hukum.
“Belum ada keputusan yang diambil mengenai apakah akan berinvestasi atau mengenai besaran investasinya,” tegas sang Menteri.
Korut Kembali Tembakkan Rudal Balistik
Ketika hubungan ekonomi Korea Selatan dan Amerika Serikat semakin erat, situasi keamanan di Semenanjung Korea justru kembali memanas.
Militer Korea Selatan melaporkan Korea Utara menembakkan rudal balistik pada Sabtu (3/10/2026). Rudal diluncurkan dari Wonsan dan terbang lebih dari 700 kilometer.
Militer Korea Selatan dan Amerika Serikat masih menganalisis rincian peluncuran tersebut. Kementerian Pertahanan Jepang memastikan rudal itu jatuh di luar zona ekonomi eksklusif Jepang.
Kantor Keamanan Nasional Kepresidenan Korea Selatan mendesak Pyongyang menghentikan peluncuran rudal balistik yang berulang. Seoul menyebut tindakan tersebut melanggar sanksi Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB).
Komando Pasifik AS menyatakan peluncuran itu tidak menimbulkan ancaman langsung terhadap personel maupun wilayah Amerika Serikat dan sekutunya.
Militer Korea Selatan kemudian meningkatkan pengawasan dan kesiapsiagaan untuk mengantisipasi kemungkinan peluncuran berikutnya.
Ketegangan Perbatasan Korea Ikut Memanas
Peluncuran rudal tersebut terjadi sehari setelah Kim Yo Jong, adik pemimpin Korea Utara Kim Jong Un, mengejek tuntutan Korea Selatan agar Pyongyang meminta maaf atas ledakan ranjau di kawasan perbatasan.
Ledakan pada 21 September itu terjadi sekitar 10 meter di sebelah selatan garis demarkasi militer yang memisahkan kedua Korea dan melukai tiga tentara Korea Selatan.
Korea Selatan mengatakan pemeriksaan bersama dengan Komando PBB yang dipimpin Amerika Serikat menemukan bahwa ledakan tersebut berasal dari ranjau yang dipasang Korea Utara.
Komando PBB kemudian menyatakan Korea Utara telah melanggar perjanjian gencatan senjata yang menghentikan pertempuran dalam Perang Korea 1950-1953.
Seoul juga meminta Pyongyang menghentikan penguatan kawasan perbatasan, termasuk pemasangan ranjau dan penghalang antitank.
Namun, Kim Yo Jong menolak tuntutan tersebut. Pada Jumat (2/10), ia menyebut tuntutan Seoul sebagai sesuatu yang “sangat menyedihkan” dan mengatakan Korea Utara berniat memutus hubungan dengan Korea Selatan untuk selamanya.
Dalam pernyataan sebelumnya, Kim Yo Jong juga membantah Korea Utara bertanggung jawab atas ledakan tersebut serta mengancam akan melakukan pembalasan jika Korea Selatan menembaki pasukan Korea Utara yang sedang memperkuat kawasan perbatasan.
Rudal, Nuklir dan Jalan Diplomasi yang Masih Buntu
Peluncuran rudal pada Sabtu menjadi bagian dari rangkaian aktivitas militer Korea Utara dalam beberapa pekan terakhir.
Sebelumnya, Pyongyang melakukan sejumlah uji coba rudal, latihan tembak langsung, dan mulai mengoperasikan sebuah kapal perang baru.
Wonsan juga menjadi lokasi uji coba pada 20 September terhadap senjata yang disebut media pemerintah Korea Utara sebagai sistem rudal hipersonik. Sistem tersebut merupakan bagian dari pengembangan berbagai jenis persenjataan yang ditujukan untuk menghadapi dan menembus pertahanan rudal Korea Selatan.
Di sisi lain, Kim Jong Un terus memperlihatkan perkembangan program nuklir Korea Utara, sementara Amerika Serikat menyerukan dimulainya kembali jalur diplomasi.
Jalur perundingan antara Pyongyang dan Washington sendiri sebagian besar terhenti sejak perundingan nuklir Kim Jong Un dengan Trump gagal pada 2019.
Sejak itu, Rusia menjadi salah satu fokus utama kebijakan luar negeri Korea Utara. Pyongyang juga telah mengirim ribuan tentara serta sejumlah besar persenjataan untuk mendukung Rusia dalam perang melawan Ukraina.
Setelah bertahun-tahun melakukan pengembangan dan pengujian senjata, Korea Utara kini memiliki berbagai jenis rudal yang mampu membawa hulu ledak nuklir, termasuk rudal jarak jauh yang berpotensi menjangkau daratan utama Amerika Serikat serta rudal jarak lebih pendek yang dapat mengancam Korea Selatan dan Jepang.
Washington Perlu Menjaga Dua Jalur Sekaligus
Pada Agustus, Trump mengumumkan pengurangan skala latihan militer besar bersama Korea Selatan. Langkah tersebut dipandang sebagai upaya membuka kembali peluang diplomasi dengan Korea Utara.
Namun, Pyongyang belum menyambut pendekatan tersebut.
Korea Utara menyatakan Washington harus terlebih dahulu menghentikan apa yang disebutnya sebagai kebijakan bermusuhan. Istilah tersebut digunakan Pyongyang untuk merujuk pada sanksi yang dipimpin Amerika Serikat dan latihan militer gabungan AS-Korea Selatan.
Pyongyang juga meminta agar denuklirisasi tidak lagi dijadikan syarat untuk memulai perundingan.
Di tengah kebuntuan tersebut, Seoul justru memperkuat hubungan ekonominya dengan Washington melalui komitmen investasi energi bernilai hingga US$200 miliar.
Karena itu, perkembangan terbaru di Semenanjung Korea memperlihatkan dua jalur yang berjalan bersamaan. Hubungan ekonomi Korea Selatan-Amerika Serikat semakin dalam, sementara ancaman keamanan dari Korea Utara masih menjadi persoalan yang belum terselesaikan.
0 Komentar